Monday, September 21, 2015

Random Talk

>> My Niece
     Thursday, September 17, 2015. Asyahila was sick, and she had operated in Santo Yusup hospital in Bandung. My caleda girl, my lovely and the only one niece. After the operation was finished, few hours later she woke up. Then, I call her. When I heard her voice on the phone, she was so strong. Even, she didn't cry. The funny thing, she said: "Ateu, ini telponnya neng kasiin ke Bunda yaa, ngomong sama Bunda aja yaa. Neng nya mau nonton tv dulu." Niihh.. (sambil ngasih telpon ke Bundanya (my sister)).
hhhh,, nak keciill, yang mau birthday 4 tahun sehari setelah operasi, rasa sakitnya bisa keobatin sama film kartun.. ckckck -_- ,, gatau apa disini atteunya lagi nangis sedih.. :(

>> My Professor.
     Saturday, September 17, 2015. Thesis advisor saya adalah ketua Jurusan Finance di Univ ini. Awalnya, karena alasan itulah saya ingin beliau jadi thesis advisor saya.
Beliau dosen yang pinter ter ter,, aduh econometrics ><,, dan beliau adalah asistennya Wooldridge di Michigan State University (Wooldridge adalah penulis buku Econometrics yang tersebar seantero dunia).

Tapi memang, terserah kamu pengen dibimbing dosen senior yang sibuk, atau dosen junior yang perfeksionis.
Jika kamu memilih dosen senior: Beliau sangat sibuk. Susah banget ketemunya, dan bahkan udah bikin janji pun beliau terkadang lupa atau ternyata malah jadi gabisa. Feedback by e-mail bakalan susah. Akan lebih baik jika kamu siapin semua pertanyaan kamu, lalu ketika ada pertemuan, langsung beberkan semuanya dengan jelas. Waktu beliau sangat berguna, harus pinter-pinter manfaatin waktu beliau. Dalam pengerjaan penelitian, kamu lebih dominan, kamu yang menentukan dan mengerjakannya. Ini seolah kamu ngerjain thesis sendirian, dan beliau sebagai pemberi inspirasi, nasehat, dan motivasi. Semangat! Better kalo begitu nemu masalah, kamu tanganin sendiri, kalo udah mentok tok tok, baru minta appointment. Namun ketika oral defense, biasanya kamu ga akan begitu diserang jika penguji kamu junior, wong dosen pembimbing kamu senior.
Jika kamu memilih dosen junior: Beliau bakal ngebantuin kamu. Kamu tertarik dengan topik apa? Beliau akan membantu cari judul dan referensi buat kamu.

Ketika bertemu dengan thesis advisor kemarin, saya memberikan souvenir dari Indonesia :D ; wayang, angklung, kartika sari, dan chocodot (coklat dodol dari Garut). Kemudian, beliau memberikan saya 2 buah pear, yaps Korean pear. Guede bangets.


>> Kemarin ngobrol-ngobrol sama temen, jadi inget perjuangan waktu masih pelatihan di UI. Saking pengen perjuangin kuliah di Jerman, aku terus aja kirim-kirim berkas ke Jerman, baik itu by e-mail, and by pos (di dalam satu amplop, kirim barengan sama temen" yg lain yang niat ke Univ yang sama, supaya murah).
Email-emailan sama Mr. Siddique Schweinfurt, dia perwakilan wilayah Asia untuk Univ yang saya tuju. Ternyata, secara kebetulan beliau akan melakukan business trip di Tangerang. Jadilah, saya mengajak teman-teman saya datang ke salah satu hotel di Tangerang. Setelah berbincang dengan beliau, lemes badan saya. Gimana caranya saya mengumpulkan uang dp 25 juta hanya dalam waktu 3 hari??? 
Waktu di Depok, menunjukkan waktu pukul 00.30 pagi. Setelah pulang dari Tangerang, kami rapat di KFC depok ><. Salah satu teman saya berkata: "Ya aku sih ga masalah. Ada papah aku nanti."
Saya terdiam. Lemesss.. Ga mungkin saya berani minta uang hanya dalam waktu 3 hari harus udah ada. Kalo pun iyah minta, dan dikasi, dan lalu? Gimana kalo Dikti ternyata merasa Univ ini kemahalan? Gimana kalo saya ternyata ga lolos beasiswa Dikti? Pertanggungjawabannya terlalu besar.
Padahal, Univ tersebut adalah satu-satunya harapan terakhir saya ke Jerman.

Yaps. Persoalannya adalah:
1. Anabin. Univ saya tergolong H- di akreditasi Anabin Jerman. Itulah alasan Univ" yang ada jurusan finance di Jerman menolak saya. Berbeda dengan ITB yang H+.
Tetapi, jika ditilik, itu bukanlah poin utama. Karena, lulusan Univ saya pun ternyata banyak yang kuliah di Jerman. Tetaaapiiiii, lulusan teknik. Yaps, saya anak ekonomi.
"Ketika saya berbincang dengan salah satu Indonesian Diaspora dari Jerman (beliau menikah dengan orang Jerman), beliau mengiyakan untuk jurusan teknik itu mudah masuk dan kuliah di Jerman. Tapi untuk kalau Ekonomi keuangan yah, setau saya engga ya, jarang... Jerman lebih tertarik sama teknik"

2. Biaya kuliah. Dikti mensyaratkan 3 negara utnuk dipilih menjadi tujuan study abroad: Taiwan, Austria dan Jerman. Austria, udah lah susah nyari finance (untuk calon dosen, harus ngambil jurusan yang in-line dengan S1nya, karena saya basic Akuntansi, jadi gaboleh ngambil MBA, harus MSc atau MA). Waktunya juga udah mepet banget. Sebgai angkatan pertama, segala pengumuman dan keputusan begitu mendadak. Sampai pegawai Dikti pun mengaku pusing dengan program baru ini, karena siswa"nya riweuh bolak balik ke kantor Dikti bergantian tanya ini itu ><, hhe maafkan kami yah Pak, Bu. Tapi, kami merasa beruntung, sanggatt berutung, karena pejabat" Dikti begitu kooperatif dengan kami, bahkan meluangkan waktu senggang dan liburannya. Terima kasih banyak :)

Back to topic, Univ opsi terakhir saya di Jerman memang termasuk ke dalam list Univ Dikti, namun sepertinya ada kesalahpahaman antara Univ ini dengan Dikti. Karena, ternyata setelah saya konsultasikan dengan salah satu pejabat Dikti, mereka mengatakan Univ ini tidak sesuai dengan program beasiswa ini. (Iya lah, jelas mahal, toh dia internshipnya bolak balik ke benua lain, banyak kegiatan outdoor, dan program di Univ ini meamng ditujukan untuk orang-orang yang sudah bekerja minimal 2 tahun).
And bye bye Jerman, karena pejabat Dikti sudah memastikan, kalo kami memilih Univ ini, kami dipastikan gugur dari proses seleksi, it means tidak akan lolos mendapatkan beasiswa dari program ini. Ambil aman aja, jangan kekeuh milih Univ di Jerman ini. Saya pun move on ke Taiwan. Yes, and my life is changed, I realize, it feels better here..

No comments:

Post a Comment