Showing posts with label Education. Show all posts
Showing posts with label Education. Show all posts

Thursday, December 8, 2016

Cara MUDAH Ms. Word otomatis membacakan tulisan



Kita tidak perlu lagi mencopy-paste tulisan ke google translate untuk mendengarkan mesin membacakan tulisan kita. Ternyata, Ms. Office juga bisa membacakan tulisan kita secara otomatis looh!
Kini, kita bisa dengan mudah belajar listening Bahasa Inggris tanpa perlu online. Selain itu, kita juga bisa mendengarkan dokumen kita dibacakan dan kita bisa sambil melakukan pekerjaan lain.
Namun, program ini akan bekerja di Ms. Office 2010 ke atas.
Langsung saja, hal yang harus dilakukan adalah:
1.       Klik tanda panah ke bawah yang terletak di atas (terletak di sebelah icon repeat typing)

2.       Pilih More Commands

3.       Setelah muncul tampilan Word Options, pilih Speak yang ada di kotak sebelah kiri, kemudian klik tombol Add. Setelah itu, pilihan klik akan berpindah dari kotak kiri ke kanan. Klik OK.

4.       Selamat mencoba ^^.


Note: Jika posisi kursor ada di satu kata, maka Ms.Office hanya akan membaca kata saja. Jika ingin dibacakan banyak kata/kalimat, kita harus menseleksi/memblok kata-kata yang ingin dibacakan.

Source: blogs.technet.microsoft.com 


Wednesday, January 27, 2016

Menyusun Skripsi / Thesis Secepat Mungkin



Untuk bisa menyusun penelitian secepat mungkin, kamu harus keras terhadap diri sendiri. Bikin jadwal penelitian, dan tentunya kamu harus patuh dengan jadwal dan deadline yang telah kamu susun. Ada sebuah buku dengan judul "30 hari menyusun skripsi", yang mana dalam pocket book tersebut menjelaskan tips-tips menyusun skripsi dan termasuk tips membuat rencana jadwal penyusunan skripsi:
    a. Menyusun proposal skripsi dan seminar (+/- 7 hari)
    b. Memperbaiki Bab I + Menulis Bab II dan Bab III (8 hari)
    c. Menulis Bab IV dan Bab V (10 hari)
    d. Konsultasi + ujian + revisi (5 hari)
Total: Dalam (1 bulan) kamu sudah bisa merampungkan penelitian kamu, *dengan catatan: kamu memang sudah mengetahui dengan pasti rencana penelitian kamu, dan pembimbing telah setuju dengan rencana penelitian kamu.

Ketika S1, buku dan jadwal tersebut menjadi pemotivasi saya untuk merampungkan skripsi dengan secepat mungkin. Walaupun, pada kenyataannya melenceng beberapa minggu dikarenakan butuhnya waktu yang lebih untuk mengumpulkan data.
"Bagi saya, ketika mengambil S1, yang tersulit adalah mencari topik penelitian, konsultasi dengan pebimbing (saya memilih untuk berkonsultasi dengan dosen penguji, karena dospem sama kurang paham dengan yg saya teliti), dan mengumpulkan data (data kualitatif yang bikin capek fisik bolak balik wawancara kemana-mana dan merogoh gocek lebih untuk keperluan transportasi, print kuesioner, dan souvenir)."
"Ternyata, ketika mengambil S2, ternyata sama saja hahahah. Part yang tersulit adalah mencari topik penelitian. Bayangkan, topik saya diubah seminggu sebelum sidang proposal, karena ternyata dospem tidak setuju. Padahal sejak berbulan-bulan yang lalu, beliau telah menyetujui judul saya. Yups, kita memang harus syelalu berjaga-jaga (harus ada topik penelitian cadangan). Selain itu, kesulitan dalam berkonsultasi dengan dospem. Dospem saya orangnya ngebebasin, justru itu yang membuat saya jadi merasa harus melangkah sendiri dan bikin jadwal penelitian sendiri. Yang ketiga, kesulitan dalam pengumpulan data kuantitatif; data yang saya pakai berasal dari Datastream sehingga berbayar. Untunglah Universitas tempat saya study memiliki subscribe ke Datastream, namun itu yang membuat saya harus bolak balik ke lab untuk mengambil data."

Saran:
* Untuk teman-teman yang membutuhkan data kuantitatif, akan lebih baik jika kamu tanyakan ke pihak Universitas, apakah mereka berlangganan database yang kamu perlukan. Kamu juga bisa menelepon customer service dari pihak yang menyediakan database yang kamu butuhkan. Misalnya, kamu membutuhkan data dari Factiva. Kamu bisa menelepon mereka (Factiva-DowJones) untuk menanyakan prosedur atau sekedar meminta saran. It was fun :D hhaha.
* Ketika kamu telah menyelesaikan sebuah tahap, langsung buatlah perjanjian meeting dengan dospem. Sampaikan apa yang ada di penelitian kamu dengan singkat, padat dan jelas.
* Usahakan dospem mengoreksi pekerjaanmu di depan kamu, agar kamu tidak menunggu lebih banyak waktu untuk mendapatkan hasil koreksi.
* Jika kamu membutuhkan program SPSS / Eviews / STATA, dan may be you have no idea at all what's that program is, I suggest you to buy the manual book. Gocek yang kamu keluarkan tidak akan lebih dari Rp 100ribu, namun kamu bisa paham dan dapat menggunakan program dengan efektif.
* Minta tolong teman yang sudah atau sedang mengerjakan penelitian yang hampir serupa dengan penelitianmu.
* Jika kamu mumet, kerjakanlah penelitian kamu di tempat yang baru. Misalnya: perpustakaan nasional, cafe, restaurant, 7eleven, family mart, lawson, taman kampus, dll.
* Desain kamar kamu senyaman mungkin agar kamu kondusif untuk belajar. *Untuk aku pribadi, aku lebih suka kamar yang rapi, tapi semua buku-buku yang relevan dan kertas tergeletak terbuka mengelilingi badan dan laptop utnuk memudahkan dalam mencarinya ketika dibutuhkan :)
* Gausah sok-sok'an begadang. Mending iya kalo begadang ngerjain penelitian :). Kalo begadang ujung"nya malah chat atau buka youtube, ya percuma :p.
* Tidurlah yang cukup. Otak kita butuh tidur untuk menghasilkan ide yang cemerlang :)
* Matiin handphone ketika berniat fokus menyusun penelitian. "Hal ini memang sulit bagi diri saya pribadi apalagi sekarang ini gatel banget pengen check medsos mulu rasanya, dan setiap sekali buka medsos pasti jadi sejam-dua jam-tiga jam :(, padahal membuka Ms.Word penelitian belum juga 5 menit :/"
* Cari hal yang akan memotivasi kamu utnuk mengerjakan penelitian. Masing-masing individu terntunya berbeda. Bagi saya, mendengar progress penelitian teman akan menjadi motivasi bagi saya untuk mengerjakan penelitian.
* Hal yang paling penting adalah berdoa kepada Allah dan minta doa dari orang tua agar dimudahkan dan dilancarkan penelitiannya.

Yang sedang bergelut dengan penelitian, ayo semangat, semoga lulus semester ini, Amiiiin

Wednesday, June 3, 2015

Kentucky Fried Chicken-Japan Limited

The Beginnings. The founder of Kentucky Fried Chicken was Harland Sanders. He started to franchise his chicken recipe in 1956 by selling 700 franchises in not more than nine years. In running his business, Col. Sanders just relied on the basic goodness of people around him. As Kentucky Fried Chicken franchising boomed, there were some specific key factors that should be fixed up: location, effective store management, and chain’s overall market image. By early 1960s, Colonel Sanders sold his interest in his company for $2 million to a group of investors. In John Y. Brown and Jack Massey leadership, the company had rapid growth but the turnover problems began to emerge. Then, Brown though that it was a good idea for the company to expand KFC to international markets.
KFC-Japan (Stage 1): In 1970, a joint venture agreement was signed by Mitsubishi and KFC. After that, Loy Weston as the President of KFC Japan and Shin Ohkawara built three stores in a cheap sites, and where new shopping centers were opening up. At that time, the sales were very poor.
Meanwhile, the economy in US went into a recession. In 1971, Brown and Massey sold KFC in an exchange of stock to Heublein, Inc.
After gaining debt from Heublein, Weston began thinking of new strategic vision; focus on Tokyo and target group- upscale young couples and children. Without consulting to the KFC Headquarter, Weston built stores in downtown areas (change the location and the size of restaurants), adding fried fish and smoked chicken menu (menu set configuration), adjusting prices, and introducing mini barrels. However, even though in 1973 there were 50 more stores were added, KFC-Japan still can’t attain the break-even point because of the attack of oil crisis.
On the other hand, the KFC’s domestic operations in US were in turmoil. There was a widespread discontent among the franchisees, some of whom felt the new owners did not understand the chicken business and were not providing leadership expected from a franchisor. At that time, Quality-Service-Cleanliness were terrible, standards were inconsistent, employees were unfriendly, and the buildings run down.
In the late of 1975, Michael Miles was appointed to be VP of International operations for Heublein. With strategic planning as his credo, Miles thought overseas subsidiaries needed more support and control from corporate Headquarter. In respond with Mile’s effort in planning system, Weston though a market research was useless, and so did Ohkawara. It was clear that KFC-I had different perspectives with KFC-J. KFC-J learned to live with planning system, but adapted it to Japanese practices. Furthermore, they learned how to manage their relationships with headquarters better; they didn’t show a big jump, whereas they managed sales and profit to show consistent growth.
Organizational changes. Miles made organizational changes to transfer to KFC’s overseas companies some of database management system, in order to increase efficient and ensure standards. At that time, efficiency targets, QSC ratings, and performance bonus levels were introduced, and reports on trends at the store level were produced.

In 1982, R.J. Reynolds (RJR) acquired KFC, and Richard Mayer appointed to be the chairman and chief executive of KFC. Mayer found four important issues for KFC-I and KFC-Japan: KFC-I had to maintain its drive for aggressive growth to ensure the growth would continue (expansion problem), implementation of administrative operational controls and systems (HQ-sub problem), how to expand into new countries (agency problem), and managerial skills problem. 
There are some suggestions that KFC should do in order to solve the problems:
1.    Have more attention on R&D and they should study the culture of new country before try to expand their business to that country
2.    Use new technology to make innovation of product development and cut the cost
3.    Compete on price using the benefits of cost savings from economies of scale.
4.    Repair the relationship with franchisee; try listen to their ideas and discuss problems with the franchisee because KFC-I could also learn from franchisee.
5.    KFC need to have a clear vision and solve the internal issues
6.    Retain and manage its manpower; They should work on the management issues to create a good atmosphere where employees are happy to work in.
7.    When the owners changed, the employees should have ability to adapt with different operating procedures and working conditions. The old managers must remain in the business because they are people who know well how to operate the business.
8.    KFC should always listen to their customers and try to follow the new trends on the market in order to fully satisfy their customers.

From this case, we can learn about Human Resource Management, and see that KFC has: Economic of Scale (EOS), Division of Labors specialization, and Capitalization. The business can be successful while it has good standardization (SOP, economy of scale, and procurement), autonomous, and they can also make differentiation with the other competitors.

Tuesday, May 26, 2015

Samsung Electronics

The Harvard Business Research of Samsung Electronics case talks about Samsung Electronics company under Kun Hee Lee leadership. In 2005, Kun Hee Lee more worried about mainland Chinese companies (;SMIC) that were beginning to attack Samsung. These Chinese companies who just took design from other firms and made chips based on blueprints could afford selling their products at low prices.
However, Samsung had more competitive advantage than SMIC. We can see that from several perspectives; marketing, products, financial, Research & Development, and Human Resources.
Samsung succeed in marketing new types of cutting-edge memory chips and their R&D support had necessary organization experience and knowledge which are required to master the design and production process. Furthermore, Samsung diversified their production on DDR -16Mbit, 64Mbit, 127Mbit, 256Mbit, 512Mbit, 1Gbit – DDR SDRAM, and Rambus DRAM, while SMIC decided to just produce DRAM 256Mbit and DDR SDRAM 256Mbit. Moreover, Samsung always gained profit in selling their products, while SMIC gained loss. Samsung sold its products with higher price and lower cost, whereas SMIC sold their products with lower price and higher cost.
Based on financial perspective, since 1983 until 2003, Samsung was the most profitable companies compare with the other major memory competitors;
a)      Samsung was the only one company who had positive Net Income and negative Net Debt.
b)      Samsung has Total Asset Turnover which is > 1, while the others < 1. For every dollar in Samsung assets, Samsung generated $1.1 in sales, and it took 0.9 year to turn assets over completely.
c)       From profitability perspectives; Samsung’s profit margin, ROA and ROE were the highest and positive. Samsung generated 13 cents in net income for every dollar in sales. On the other hand, Samsung generated 15 cents in profit for every dollar in assets and so does in equity. So, we can say that Samsung was a good company, not only because of the total asset turnover > 1, but also from their profitability ratio.
Based on operating profit of DRAM in 2003, we can see that Samsung cost was lowest than its major competitors;
a)      lower cost of raw materials. They could cut per unit cost of raw materials because Samsung produced more chips; it means that there were more chips could be cutted at one time.
b)      lower labor cost. Samsung provided project and productivity incentives, and profit sharing program to the employees.
c)       lower depreciation cost. This can be done because multiple product architectures could be produced on each production line (R&D engineers and production engineers). 
d)      lower R&D cost. Samsung main Research and Development and manufacturing plants were at a single site, so that the R&D engineers and production engineers could quickly solve the product design and process engineering products. The communication cost has reduced and they could save time too. 
From above information, nevertheless to say that Samsung gain the biggest profit because Samsung had the lowest cost and sold products 53% more than competitors. However, people want to pay with that high price to Samsung because Samsung brand name and its trusted products. They believed Samsung has good quality with less deficiency than the products from the other DRAM suppliers. The second reason is because of Samsung’s ability to customize products to customer demands. Samsung maintained their quality control very well. One technology development that Samsung used was to see and fix mistakes by stacking method, while the others used trenching method.
However, competitive advantage of SMIC was undeniable; cheap land, increasingly skilled workforce, attractive market, and support from Chinese government.

In my opinion, Kun Hee Lee could make a partnership with SMIC. This partnership would create a new joint-venture company in China.  That means Samsung can access to the government essential resources and engineering talents with lower wages. Furthermore, Samsung can enlarge their domestic market and market share in China.

Monday, April 13, 2015

Perjalanan menuju dan dengan Beasiswa

Hai, nama saya Fiesty Utami. Saya adalah salah satu mahasiswi penerima BPPLN-Dikti 2014, yang sedang mengambil program Master Degree-Finance di National Yunlin University of Science and Technology di Taiwan.
Saya bukan orang yang jenius. Saya perlu membaca berkali-kali, setelah saya paham barulah saya bisa mengerjakannya. Memahami kelemahan saya adalah kunci bagi diri saya sendiri untuk menyemangati diri untuk belajar dan belajar.
Ketika semester 8 (awal tahun 2012), saya mencoba melamar pekerjaan. Ternyata saya beruntung; setelah mengikuti tahapan test interview dan psychotest, dan meyakinkan user bahwa saya pasti lulus di tahun 2012 (padahal saya masih mengerjakan skripsi BAB II); saya diterima di salah satu perusahaan BUMN di Jakarta. Dengan ambisi diterima di perusahaan bonafit, saya mengikuti seluruh tahapan seleksi yang cukup membuat saya stres karena harus bolak-balik Jakarta-Bandung, mengerjakan tugas tambahan oleh user perusahaan tersebut (sebagai tahapan seleksi tambahan), sekaligus mengejar dosen bimbingan skripsi di Bandung.
Gaji di perusahaan tersebut ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup saya selama tinggal di lokasi dekat perusahaan di Kuningan, Jakarta. Saya-pun masih meminta dikirimkan bantuan financial dari orang tua. Walaupun begitu, ketika saya meminta untuk berhenti bekerja dan memilih untuk melanjutkan kuliah- ibu saya berkata bahwa mereka sudah tidak mampu memberikan saya uang bulanan dan membiayai saya kuliah.
Mendengar hal itu, saya kaget dan kecewa. Saya mengatakan bahwa saya iri dengan kakak saya yang mengambil S1 di salah satu Universitas Internasional swasta di Jakarta dan melanjutkan program profesinya di sana. Biaya kuliah S1 di Universitas tersebut menginjak dua digit per-semesternya dan belum lagi di tambah biaya untuk mengambil profesi. Di mata saya, kenapa kaka saya yang sudah kuliah mahal-mahal, ujung-ujungya toh menikah, dan kini sudah sibuk dengan keluarganya sendiri. Sedangkan saya, yang berkomitmen untuk bekerja sebelum menikah untuk membiayai orang tua nantinya, justru tidak bisa melanjutkan S2, bahkan saya meminta profesi-pun, ibu saya tidak mau membiayai saya.
Mendengar itu, Ibu saya berkata: “Jangan pernah membandingkan jatah seseorang dengan yang lainnya. Dulu memang kebetulan mama mendapatkan rezeki tambahan ketika teteh meminta lanjut profesi, mungkin itu memang rejekinya teteh, kalau dilhat dari gajinya papa,  mama juga sampai sekarang masih ga ngerti, kenapa kita bisa mengkuliahkan kalian sampai beres.  Alhamdulillah.. selalu ada rejeki tiap kita butuh, tapi kalau kamu meminta untuk kuliah sekarang, maafin mama, papa sama mama sudah tidak mampu membiayai esti kuliah. Cukup sampai S1, kalau kamu mau ngambil S2, silahkan bekerja.. menabung..”
Saya diam mendengarkan ibu saya bercerita. Sesekali terdengar suara cegukan saya, menahan tangis.
“Mama yakin esti mah pasti bisa. Esti anak pinter, mama lihat dari dulu kalau esti pengen ngedapetin sesuatu, esti kerja keras, esti berdoa  dan hasilnya selalu memuaskan. Allah Maha Mengabulkan, sekarang esti usaha sendiri, jangan lupa banyak berdoa memohon sama Allah supaya Allah luluh dan mengabulkan keinginan esti lagi. Dulu bisa dapet beasiswa dari pemerintah 4 tahun berturut-turut waktu kuliah, bisa pake uang beasiswa buat beli barang-barang tambahan yang esti pengen, dan Alhamdulillah lulus cum-laude, ga ada yang ga mungkin, siapa yang tahu nanti dapet beasiswa buat kuliah S2, atau bisa kerja sambil kuliah pake uang sendiri.”
Baru saya sadar, dilihat dari umur ayah saya, seharusnya ayah saya memang sudah pensiun. Namun, karena saya belum lulus kuliah, dan ternyata setelah lulus kuliah pun saya masih belum bisa lepas secara financial dari mereka, maka ayah saja terus-terusan menunda pensiun, sering kali ayah saya mengeluh cape berkerja karena beliau memiliki masalah penglihatan. Namun, beliau tetap bekerja demi saya, menunggu sampai saya bisa mandiri.
 Selama ini mereka berdua begitu memprioritaskan anak-anaknya, sampai-sampai mereka menunda cita-cita mereka sendiri untuk menjalankan ibadah naik haji. Sekarang, giliran mereka untuk menabung dan memikirkan masa depan mereka. Ayah saya berniat untuk melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan uang pensiunnya.
Dan saya sadar, ternyata di umur saya yang ke-23 tahun, saya belum bisa menjadi tempat bersandar bagi kedua orang tua saya.
*
Dari Jakarta, saya pindah bekerja di perusahaan Korea yang terletak di Bekasi. Akhirnya untuk pertama kalinya, saya menstransfer uang ke rekening ibu saya. Walaupun jumlah yang saya transfer tidak banyak, namun bagi saya itu adalah permulaan. Bagi ibu saya, hal itu merupakan suatu kebanggan, karena artinya saya sudah mampu mengontrol penghasilan dan hidup mandiri. Ibu saya tidak pernah memakai uang tersebut, dan mengumpulkannya. Katanya, ini adalah uang tabungan saya, yang dititipkan ke Ibu saya; suatu saat saya akan membutuhkan uang ini katanya.
Dari Bekasi, saya pindah bekerja ke perusahaan lain di Cilegon. Merupakan suatu kebanggaan bagi saya bekerja di perusahaan joint venture Korea-Indonesia ini. Bekerja di Perusahaan ini membuat saya merasa seperti bekerja di sebuah pulau asing di luar negeri, karena lokasi perusahaan yang jauh dari mall-mall besar dan setiap hari para pekerja berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Limpahan ilmu dan tips saya dapatkan dari expat-Korea dan Indonesia yang hanya dalam beberapa hitungan tahun ke depan, mereka harus kembali ke negara dan perusahaannya masing-masing. Pressure dari user dan atasan, rasanya terobati dengan ilmu-ilmu pemecahan kasus dan pengalaman baru yang tidak saya pelajari ketika kuliah. Belum lagi senior-senior yang selalu ramah dan memberikan solusi, serta teman-teman rekan kerja yang selalu saling memberikan support, hal-hal tersebut akan membuat saya berat meninggalkan perusahaan ini.
Tentu saja, bekerja tidaklah selalu menyenangkan. Malam itu, ketika saya merasa dropped, saya menghibur diri sendiri dengan melihat-lihat halaman facebook. Saya melihat salah satu teman SMA saya mengupload foto-fotonya di Perancis, dan foto-foto rumahnya yang sedang dibangun.  Ternyata ia kuliah double degree S2 di Perancis, dan dengan uang beasiswanya ia mampu membangun rumah sendiri. How clever and lucky you are. Itulah yang saya lihat darinya. Ketika menggeser touchpad laptop, “Kok basah?”  Ternyata sedari tadi saya terus meneteskan air mata. “Ya Allah, terimakasih banyak atas semua anugerah-Mu. Hamba yakin, Allah tahu yang terbaik untuk hamba dan memberikan yang terbaik untuk hamba. Tapi, kalau boleh, jadikanlah agar yang terbaik itu adalah hamba kuliah S2 di luar negeri dengan beasiswa. Amiin.”
Tepat keesokan harinya ketika jam istirahat tiba, saya menghampiri teman saya di meja kerjanya; saya memergoki dia sedang mengisi formulir. Teman saya kemudian menawarkan saya untuk ikut mengisi formulir tersebut; formulir Beasiswa Calon-Dosen BPP-LN (Beasiwa Pasca Sarjana Luar Negeri) DIKTI DIV Vokasi, yang ternyata deadline-nya adalah hari itu juga.
“Ayo ti, isi juga, deadline-nya hari ini loh. Upload dokumennya hari ini juga. Kapan lagi ada kesempatan keluar dari perusahaan, jadi dosen.”
Aku ternganga. Ya Allah, baru saja tadi malam ak berdoa, ternyata Maha Baik Allah, doaku langsung dikabulkan, kesempatan itu tiba-tiba datang. Keraguan sempat datang berkali-kali, Bagaimana jika aku diterima? Perusahaan ini adalah perusahaan impian saya. Saya juga begitu mencintai pekerjaan saya. Tenang esti. Coba dulu aja. Hasilnya serahkan ke Allah. Allah Maha Tahu yang terbaik.
Malam harinya, saya mengisi formulir dan meng-upload beberapa dokumen yang dipersyaratkan. Setelah sebulan menunggu, akhirnya November 2013 pengumuman-pun muncul. Pengumuman hasil seleksi administrasi itu datang begitu mendadak. Sehingga pada Senin pagi, saya tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Dengan ragu, saya pun akhirnya pergi naik bis ke Jakarta. Alhasil, selama di perjalanan saya tetap bekerja dengan cara berkomunikasi dengan supplier-supplier via telpon.
Setelah naik ojek dari terminal rambutan, sampailah saya di Universitas Gunadarma, tepat jam 13.00. Untunglah ternyata saya masih sempat registrasi. Dengan masih terengah-engah karena lelah berlari, saya membaca dan mengerjakan semua soal Tes Kemampuan Akademik dan Tes English. Setelah mengisi soal-soal tersebut, jumlah score ternyata langsung terpampang di monitor tersebut. Setelah keluar ruangan tes, saya mengajak berkenalan orang-orang di sekitar saya. Kami-pun membandingkan score kami masing-masing, dan ternyata score saya tidak besar. Kecemasan pun mulai datang.
Pada bulan Desember 2013, hari Kamis, saya menerima e-mail dari Dikti yang isinya bahwa saya diterima sebagai calon dosen Vokasi, dengan syarat mengikuti pelatihan Bahasa Inggris di Universitas Indonesia selama 6 bulan. Saya ternganga, karena jika saya memillih mengejar cita-cita saya untuk kuliah di luar negeri- saya harus resign dan mengikuti pelatihan Bahasa Inggris (mengikuti pelatihan Bahasa Inggris belum tentu lulus, karena masih ada proses tes seleksi lagi setelahnya). Keputusan ini harus dibuat dalam kurun waktu 3 hari, karena jika saya memtuskan untuk melanjutkan proses seleksi, hari Senin saya sudah harus datang ke Universitas Indonesia dan menandatangani surat perjanjian.
Setelah sharing dengan orang tua, rekan kerja, dan senior, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan seleksi beasiswa. Itu artinya, pada hari Jumat saya harus mengajukan resign dari perusahaan.
Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
Di hari Jumat pagi, team leader memanggil saya ke ruangan. Saya tersenyum ketika ia memanggi saya ke ruangannya. Oke, inilah saat yang tepat untuk mengajukan resign. Di ruangan itu, ia menghela nafas kemudian ia meminta maaf karena sering menjibuni saya dengan banyak deadline kerja, sehingga pada weekend saya sering masuk kerja. Namun, dia berharap saya maklum, karena perusahaan memang dalam masa commissioning. Kemudian di mengatakan bahwa di di KPA bulan Desember ini, dia akan memberikan saya nilai A. Dia akan mengajukannya ke atasannya.
Hati saya begitu sedih ketika mendengar beliau terus berbicara. Ya ampun, jahatnya saya. Kenapa harus hari ini. Dia begitu baik. Air mata pun tak sengaja terus menetes. Ia kaget melihat saya menangis. “What happen?”
“Thank you very much. You are so kind to me. I am sorry Mr. Actually yesterday I got an e-mail from Indonesia government. I want to school abroad and being a lecturer.”
“What do you mean?”
“I want to resign from this company. I want to school abroad”
“Where? When?”
“Germany. I have to resign today, because on Monday I will sign the contract with Government and join English training.”
Mukanya memerah, ia tidak menyetujui resign-ku karena alasan resign yang terlalu mendadak. Dengan wajah memerah karena marah, ia pun membawa saya ke atasannya, Pak Eddy. Di ruangan Pak Eddy, saya memperlihatkan surat undangan dari Dikti. Setelah membacanya, Pak Eddy tersenyum seraya berkata: “Ini bagus. Saya dukung kamu. Kamu wanita, menjadi dosen adalah pekerjaan mulia. Kesempatan kuliah di luar negeri dan apalagi menjadi dosen ini jangan kamu sia-siakan. Selamat ya.”
Saya tersenyum bahagia dan bersyukur. Semua proses dilancarkan. Pak Eddy menyuruh saya tenang dan kembali ke meja kerja saya. “Kasih saya lima copy surat resign, biar saya yang kasih surat resign ke Direktur Departemen ini dan Direktur HR. Kamu ga usah ngehadap mereka. Kamu duduk di sini aja, bikin progress report dan detail pekerjaan kamu yang pending. Nanti saya dan Mr.Park yang akan membagi-bagi pending item kamu.”
Subhanalloh. Terima kasih Ya Allah. Ketika hamba mengalami kesulitan, Engkau memberikan jalan lewat bantuan dari orang ini.
*
Hari Senin, saya naik bis dari Cilegon ke Jakarta. Di sana kami disambut oleh orang Dikti. Sempat ada kesalahpahaman antara kami dengan pihak yang diutus oleh Dikti. Kebetulan beliau belum mengetahui program baru ini dengan jelas (Program BPPLN Calon-Dosen Vokasi DIV merupakan yang pertama kalinya).
Kami, yang telah resign dari pekerjaan, mencoba untuk tenang ketika mendengar opini beliau. Kami pun mengirim e-mail ke Dikti dan meminta konfirmasi. Alhamdulillah, e-mail balasan dari Dikti menenangkan kami. Ternyata kami yang bukan dosen, bisa melanjutkan tes seleksi ini.
Kabar mengejutkan dari Dikti datang kembali di bulan Maret 2014. Dikti mengabarkan bahwa negara tujuan kuliah dipersempit menjadi hanya 3 negara; Austria, Jerman, dan Taiwan. Dan sesuai dengan background kami DIV, kami harus memilih FH (Fachhochschulreife).
Setelah 2 bulan pelatihan Bahasa Inggris, saya merasa bosan, saya merasa Bahasa Inggris saya tidak mengingkat. Saya rindu kegiatan sibuk. Saya rindu perusahaan saya, yang di sana saya merasa Bahasa Inggris saya lebih meningkat. Saya-pun akhirnya tidak belajar dengan maksimal. Kesalahan saya adalah, saya cepat merasa puas. Saya lebih banyak menghabiskan waktu saya untuk ke hang-out ke mall, bioskop, makan di luar, dll.
Ketika pengumuman hasil IELTS dibuka, dada saya sesak ketika melihat hasil IELTS: 6.0. Sedih memang, penyesalan datangnya terakhir.
Dengan berbekal score IELTS 6.0, saya meng-apply ke beberapa Universitas di Jerman dan Taiwan. Namun, ternyata penyebab saya ditolak oleh Universitas di Jerman adalah karena masalah akreditasi. Jerman memiliki sistem akreditasi sendiri, dan Polteknik Negeri Bandung memiliki akreditasi H-.
http://anabin.kmk.org/no_cache/filter/institutionen.html
Tidak ada waktu untuk bersedih, saya harus segera merubah haluan saya ke negara lain, Taiwan. Taiwan sedang gencar-gencarnya meningkatkan jumlah mahasiswa Internasional. Tidak heran, ESIT dan beberapa Professor dari beberapa Universitas di Taiwan datang ke kelas kami untuk mempromosikan Universitasnya.
Semua informasi Universitas dan beasiswa di Taiwan tersedia lengkap di http://www.esit.org.tw/. ESIT (Elite Study in Taiwan) adalah suatu project Ministry of Education Taiwan. Pihak ESIT sangat komunikatif, mereka selalu membalas semua e-mail pertanyaan dari kami dengan cepat dan jelas.
Setelah memilih Universitas yang diinginkan dan mendapatkan Professor pembimbing, kami daftar online lagi ke website Dikti, lalu mengikuti proses seleksi wawancara. Pihak DIKTI sangat baik dan ramah, dengan tangan terbuka mereka membantu kami yang kebingungan dengan memberikan petunjuk dan saran agar kami mendapatkan surat Setneg tepat waktu sebelum study di Taiwan dimulai.
*
16 September, 2014, kami -saya, 9 teman yang satu program dengan saya, dan 2 dosen yang akan kuliah di kampus yang sama- tiba di National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan. Mata kuliah diajarkan dengan dwi bahasa: setelah dosen menjelaskan dengan menggunakan English, dia akan menjelaskan lagi dengan Chinese. Di kelas Finance ini, tidak banyak mahasiswa yang lancar berbahasa Inggris.
Taiwanese ternyata sangat ramah. Jika boleh membandingkan dengan orang China daratan (Chinese), Taiwanese lebih ramah dan terbuka. Mereka juga sangat menghargai agama kami. Mayoritas Professor dan teman-teman saya di Taiwan tidak memiliki agama. Di kota Yunlin -kota tempat saya melanjutkan study-, tidak ada yang memakai kerudung. Sehingga, ketika semester pertama kami di sini, setiap hari kami disapa, diajak mengobrol, dan menjadi objek foto mereka. Tidak hanya teman-teman di kampus dan masyarakat saja yang heran, ternyata beberapa dosen saya juga bertanya mengapa kami memakai kerudung. Apakah itu baju adat Indonesia?
Kenapa kalian memakai penutup kepala? Apa kalian botak, atau rambut kalian rusak?
Udaranya panas di sini, apa kalian tidak akan membuka penutup kepalanya sekarang?

Gambar 1. Berita di dua koran lokal Taiwan tentang kedatangan kami

Kuliah di Taiwan memiliki keuntungan-keuntungan tersendiri yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya kuliah di negara lain:
1.      Mendapatkan fasilitas prayer room di Jurusan,
2.      Belajar bahasa Internasional ke-dua: Chinese,
3.      Memiliki kesempatan lebih besar untuk aktif di kegiatan PPI Taiwan,
4.      Dapat mengikuti kegiatan sosial untuk membantu TKI
Di Taiwan, kami tidak saja mengikuti kegiatan sosial untuk masyarakat lokal, kami juga menyelenggarakan acara pelatihan, seminar dan workshops untuk meningkatkan skills mereka (English, komputer, dan cara membuat bisnis di Indonesia)

Di semester saya yang ke-dua ini, saya bersyukur karena hingga saat ini beasiswa saya lancar. Tinggal di kota ini memiliki keuntungan sendiri karena biaya hidup di sini tidak semahal biaya hidup di ibu kota. Sehingga saya bisa menyisihkan uang saya untuk Ibu saya umrah. Untuk semester pertama di sini, Alhamdulillah saya peringkat 6 di angkatan 103 Finance ini. Walaupun bukan 3 besar, tapi saya senang karena saya mampu bersaing dengan Taiwanese. Semoga saya tidak cepat merasa puas lagi, dan kedepannya saya bisa mendapatkan peringkat yang lebih bagus lagi. Amiin.
Untuk teman-teman yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri, akan lebih baik jika mengantongi Letter of Acceptance (LOA) terlebih dahulu dari Universitas yang diinginkan. Biasanya jika sudah mengantongi surat ini, pihak pemberi beasiswa seperti LPDP dan Dikti tidak akan ragu untuk memberikan beasiswanya.


Sering-seringlah memantau web pemberi beasiswa, dan tetap keep contact dengan bagian administrasi di Universitas sebelumnya. Siapa tahu, meereka menyelenggaran program beasiswa yang baru seperti yang saya dapatkan ini. 

Wednesday, February 5, 2014

Jamu (IELTS Writing)

Jamu, traditional medicine in Indonesia, is made from herbs such as sugar, mint, and turmeric. Jamu has been made since 700 Century in the Mataram Kingdom era. Technology has made contribution in giving Jamu's new forms such as powder, pills, capsules, or drinking liquid. Jamu is usually sold by women who carry it in a basket (jamu gendong), or in food stall. We can make Jamu by ourselves because the ingredients are easy to get, especially in tropical zone like Indonesia. The ingredients of Jamu depend on people's illness. For example, if you suffer constipation, you can make Jamu from ginger (Zingiber Officinale), Kencur (Kaempferia Galnga), pepper, Adas (Foenicoulum Vulgare Mill), and citrus. On the other hand, if you suffer problems in your menstruation cycles, you can make Jamu from Beluntas leaves (Pluchea Indica), turmeric, java coconut sugar, and sour tamarind - these can cool your body too. Each herb of Jamu's ingredient gives different benefits for your body. For example, Beras Kencur will reduce body ache and sour tamarind will reduce stomachache. There are many kinds of Jamu. You should choose Jamu which meets your needs. 

Thursday, December 27, 2012

Pengaruh Pengendalian Intern Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) terhadap Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Daerah (Studi Kasus di Pemprov Jabar)


BAB I
PENDAHULUAN

1.1           Latar Belakang Masalah Penelitian
Reformasi di bidang keuangan daerah dimulai dengan dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 Juncto Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Undang-Undang tersebut  menempatkan pemerintahan daerah sebagai titik berat otonomi, sehingga memberikan harapan bagi masyarakat untuk dapat menikmati pelayanan publik yang lebih baik.
Munculnya Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Keuangan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran dan Belanja Daerah, serta Permendagri No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah Juncto Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Dalam Negeri menjadi acuan pengelolaan keuangan daerah yang mana daerah-daerah diwajibkan menyusun APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dan membuat SAKD (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah). Tentunya hal ini dilaksanakan demi tercapainya good governance di Indonesia, yakni untuk mencapai negara yang transparan dan akuntabel.
Pengelolaan keuangan daerah saat ini harus mengalokasikan dana publik bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat daerah, yang kemudianpertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah ini harus diperiksa Inspektorat maupun pemeriksa eksternal yakni BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).
Opini BPKterhadap seluruhLKPD (Laporan Keuangan Pemerintah Daerah)se-Indonesia Tahun 2010 menunjukkan kenaikan sebesar 4% dalam opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) dibandingkan pada tahun 2008 dan 2009, dan penurunan dalam opini TMP (Tidak Memberikan Pendapat) dibandingkan opini LKPD Tahun 2008 sekitar 2% dan tidak mengalami perubahan dibandingkan opini LKPD Tahun 2009 (IHPS 2011). IHPS II Tahun 2011 juga menyajikan hasil evaluasi SPI (Sistem Pengendalian Intern) yang menunjukkan bahwa masih terdapat 805 kasus kelemahan dalam sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan, antara lain: 478 kasus pencatatan tidak/belum dilakukan secara akurat, 234 kasus proses penyusunan laporan tidak sesuai dengan ketentuan, 4 kasus entitas terlambat menyampaikan laporan, 74 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan tidak memadai, dan 15 kasus sistem informasi akuntansi dan pelaporan belum didukung SDM (Sumber Daya Manusia) yang memadai.
Sejak tahun 2006 sampai dengan Tahun 2010, Pemerintah Provinsi Jawa Barat secara berturut-turut mendapatkan opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian). Adapun BPK memberikan opini Wajar Dengan Pengecualian kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010 ini, kecuali atas piutang pajak dan persediaan.
Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI Tahun 2011 atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dapat dilihat bahwa pemberian opini WDP (Wajar Dengan Pengecualian) Tahun 2010 ini dikarenakan adanya temuan berupa permasalahan nilai piutang pajak dan retribusi, kelemahan penyajian nilai persediaan, dan permasalahan dalam penyajian aset tetap. Permasalahan nilai piutang pajak dan retribusi ini antara lain: koreksi rekonsiliasi atas saldo piutang pajak tidak dapat ditelusuri ke data wajib pajakya, saldo piutang pajak belum mencerminkan hak daerah yang sebenarnya, dan piutang retribusi pemakaian kekayaan daerah belum dapat ditelusuri ke fisik SKRD (Surat Ketetapan Retribusi Daerah)-nya. Kelemahan penyajian nilai persediaan dalam LKPD Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun 2010, antara lain: persediaan buku dan persediaan buffer stock obat APBN tidak didasarkan pada stock opname. Sedangkan, permasalahan dalam penyajian aset tetap, antara lain: laporan belum mencakup tanah dan bangunan yang sudah diserahkan ke Pemerintah Pusat, masih banyaknya unit bangunan masih dicatat dengan nilai Rp 1,00 atau Rp 0,00, serta bangunan, peralatan dan mesin tidak jelas keberadaan fisiknya.
Temuan-temuan BPK atas Laporan Keuangan  Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut mencerminkan belum memadainya pengendalian fisik atas aset, pencatatan yang tidak akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian, serta pengendalian yang kurang atas pengelolaan sistem informasi. Tentunya hal ini menunjukkan bahwa efektivitas SPI (Sistem Pengendalian Intern) Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat masih belum optimal, yang memperlihatkan masih lemahnya transparansi dan akuntabilitas publik.
Dengan masih lemahnya transparansi dan akuntabilitas tentunya dapat membuka lebar peluang terjadinya manipulasi data yang berujung pada kecurangan. Salah satu upaya mencegah terjadinya kecurangan yang merupakan unsur utama perbuatan korupsi ini adalah dengan meningkatkan dan membangun pengendalian intern yang baik dan menyeluruh.
Pengendalian intern merupakan upaya yang dilakukan mencakup unsur-unsur pengendalian intern: lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, serta pemantauan, untuk mengarahkan seluruh kegiatan agar tujuan dari kegiatan dapat dicapai secara efektif, efisien, dipercayanya informasi dan data, serta ditaatinya peraturan dan ketentuan yang berlaku. Agar pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah terlaksana dengan baik, maka SAKD (Sistem Akuntansi Keuangan Daerah) harus disusun dan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dengan menerapkan pengendalian intern secara baik dan efektif pada suatu pemerintahan, maka akan meningkatkan kualitas akuntabilitas publik dari OPD (Organisasi Perangkat Daerah) tersebut.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara dalam Pasal 58 dengan sangat tepat mengamanatkan kepada Presiden RI selaku Kepala Pemerintahan, agar mengatur dan menyelenggarakan pengendalian intern di lingkungan pemerintahan secara menyeluruh, untuk meningkatkan kinerja, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah / negara.
Berdasarkan paparan di atas, penulis merasa tertarikmembuat penelitian untuk melihat pengaruh pengendalian intern terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah di Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Maka, penulis akan melakukan penelitian dengan judul “PENGARUH PENGENDALIAN INTERN SISTEM AKUNTANSI KEUANGAN DAERAH (SAKD) TERHADAP TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS KEUANGAN DAERAH (Studi Kasus di Pemerintah Provinsi Jawa Barat).”Penelitian ini mengacu pada peneilitian Neneng (2010) dengan judul  Pengaruh Sistem Pengendalian Intern terhadap Transparansi dan Akuntabilitas Aset Tetap Pemerintah dan penelitian Ikhsan (2011) dengan judul Pengaruh Penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah terhadap Akuntabilitas Publik.

1.2           Perumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penulis merumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut:
1.       Bagaimanakah pelaksanaan pengendalian intern di Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
2.  Bagaimana pengaruh pengendalian intern dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, secara simultan.
3.     Bagaimana pengaruh komponen pengendalian intern dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat, secara parsial.

1.3           Pembatasan Masalah Penelitian
Dikarenakan adanya keterbatasan waktu, dana, dan tenaga, maka tidak semua masalah yang telah diidentifikasi akan penulis teliti. Penulis merumuskan batasan masalah antara lain sebagai berikut:
1.    Penelitian difokuskan pada pengendalian intern yang meliputi lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah, yang merupakan adopsi dari COSO (Committee of Sponsoring Organization of Treadway Commission).
2.  Penelitian ini hanya mencakup Sistem Akuntansi Keuangan Daerah yang dilakukan secara manual, sehingga tidak termasuk Sistem Akuntansi Keuangan Daerah secara terkomputerisasi (misalnya: SIMDA Keuangan, SIPKD, ATISISBADA, dan lain-lain).
3.    Penelitian ini difokuskan pada persepsi atau tanggapan responden yang berkaitan dengan Pengendalian Intern dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) terhadap transparansi dan akuntabilitas.
4.  Penelitian difokuskan pada pegawai di Bagian Keuangan atau Bidang Akuntansi dan Pelaporan di SKPD/OPD di Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
5.     Alat bantu yang digunakan untuk mengolah data dan menganalisis data statistik sampai dapat menyajikan informasi ialah dengan menggunakan SPSS 20.0 dan Microsoft Office Excel 2007.

1.4           Tujuan Penelitian
1.4.1        Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini ialah untuk memperoleh data dan informasi tentang pengaruh pengendalian internal dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap transparansidan akuntabilitas keuangan daerah di Pemerintah Provinsi Jawa Barat baik secara simultan maupun secara parsial.

1.4.2        Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hal mengenai:
1.  Apakah pengendalian intern yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah telah sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah.
2.   Pengaruh variabel pengendalian intern dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) terhadap transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

1.5           Manfaat Penelitian
Penelitian yang penulis lakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak terkait, antara lain:
1.       Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah pengetahuan  mengenai pengaruh pengendalian intern dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah, dan juga mengetahui seberapa besar pengaruh pengendalian internal dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah.
2.       Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah daerah dan menjadi salah satu referensi mengenai pengaruh Pengendalian Internal dalam Sistem Akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) terhadap transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah.