Wednesday, June 1, 2011

Life Cycle Analysis (Analisis Daur Hidup)




2.1  Konsep Akuntansi Lingkungan dan Biaya Lingkungan

            Akuntansi Lingkungan
Akuntansi lingkungan adalah identifikasi, pengukuran dan alokasi biaya – biaya lingkungan hidup dan pengintegrasian biaya – biaya ke dalam pengambilan keputusan usaha serta mengkomunikasikan hasilnya kepada para stockholders perusahaan, menurut Junus dalam Sri Astuti dan Ikhsan (2002).
Sedangkan menurut Djogo (2002) Akuntansi lingkungan/Environmental Accounting atau EA adalah istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak baik moneter maupun non moneter yang harus di pikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Sedangakn Lemanthe (2001) memberikan pendekatan akuntansi biaya lingkungan secara sistematis dan tidak hanya berfokus pada akuntansi untuk biaya proteksi lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan biaya lingkungan terhadap material dan energi. Akuntansi biaya lingkungan menunjukan biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya dan diaplikasikan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa.  

Biaya Lingkungan
Menurut Irawan (Lintasan Ekonomi: 2001), biaya lingkungan dapat di artikan sebagai biaya yang muncul dalam usaha untuk mencapai tujuan seperti pengurangan biaya lingkungan yang meningkatkan pendapatan, meningkatkan kinerja lingkungan yang perlu dipertimbangkan saat ini dan yang akan datang.
Sumber – sumber biaya lingkungan  meliputi :
1.      1. Biaya pemeliharaan dan penggantian dampak akibat limbah dan gas buangan yaitu biaya yang di keluarkan untuk memelihara, memperbaiki, mengganti kerusakan lingkungan yang di akibatkan oleh limbah perusahaan,
2.      2.  Biaya pencegahan dan pengelolaan lingkungan,
3.      3. Biaya pembelian bahan baku untuk bukan hasil produk,
4.      4. Biaya pengolahan untuk produk, dan
5.      5. Penghematan biaya lingkungan.

            Alokasi Biaya Lingkungan
Pengelolaan sisa produksi harus menggunakan teknologi maka sangat tidak mungkin apabila perusahaan tidak memasukkan biaya lingkungan ke dalam biaya produksi sebagai bagian dari kepedulian perusahaan terhadap lingkungan maka perusahaan akan memperoleh manfaat sebagai berikut :
1.      Nilai harga pokok produksi ditetapkan pada suatu produk tidak terlalu rendah, karena sudah dimasukkan biaya lingkungan. Perusahaan mencoba memperkirakan tingkat pencemaran yang telah dilakukan terhadap lingkungan denga melihat berapa unit bahan baku yang masuk dalam produksi, berapa unit yang hilang pada awal dan akhir produksi, dan berapa unit yang benar – benar menjadi output.
2.      Denga nilai harga pokok produksi yang tidak terlalu rendah maka penetapan harga jual atas produk pun tidak terlalu rendah, karena telah memperhitungkan biaya perlindungan terhadap lingkungan, maka kerusakan yang berdampak terhadap lingkungan tersebut telah diatasi oleh perusahaan. Namun apabila perusahaan tidak memasukan biaya lingkungan kedalam biaya produksi maka harga pokok produksi yang ditetapkan menjadi terlalu rendah, yang mengakibatkan harga jual juga rendah, dengan demikian tidak ada kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
3.      Dengan menetapkan biaya lingkungan dalam anggaran perusahaan secara dini, maka perusahaan akan lebih hati-hati terhadap lingkungan dan kalaupun pencemaran  tersebut tersebut masih tetap terjadi volumenya akan relatif kecil, karena bagaimanapun juga perusahaan berharap agar biaya lingkungan yang telah di anggarkan tidak di manfaatkan secara keseluruhan, namun ada penghematan atas biaya lingkungan.
4.      Dengan menetapkan biaya lingkungan dalam anggaran perusahaan, maka perusahaan sudah memikirkan alat mana yang dapat digunakan dalam pengolahan limbah, sehingga limbah yang dihasilkan limbah tersebut dapat di daur ulang. Dalam hal ini perusahaan akan memperkirakan bahwa minimal limbah tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat dan hasil penjualan limbah tersebut dapat menutupi biaya lain – lain yang telah dikeluarkan oleh perusahaan.

2.2           Analisis Daur Hidup (Life Cycle Analysis)

            Mempertimbangkan Daur Hidup
Untuk ilustrasi, penyusun mengilustrasikan produk simple seperti pensil. Walaupun kita tidak mengetahui secara teknik pemroduksian pensil, namun kita dapat menggambarkan LCA-nya. (Makin banyak pengetahuan secara teknis tentang produk, maka akan makin kompleks produk tersebut diproduksi maka akan semakin kompleks daur hidupnya).
Dimulai dari pensil, kemudian jejaki ke belakang dan ke depan.
  1. Salah satu yang harus dijejaki adalah semua bahan mentah (kayu, graphite, cat, dll). Melalui fase produksi yang awal, yaitu pengambilan dari biosphere dan mengetahui; a. efek ekologi dari pengambilan tersebut (mempengaruhi hutan, keseimbangan oksigen/karbon dioksida, dll), b. energy yang digunakan saat pengambilan dan transportasi, c. energy, mesin, dll yang digunakan untuk pengambilan tersebut.
  2. Proses yang sama harus diambil untuk semua proses produksi menengah.
  3. Salah satu yang harus dilacak adalah pengemasan produk dan manufacturenya serta pembuangannya), transport, dan akhinya sampai di tangan konsumen.
  4. Produk harus dilacak interaksi biospheric dan pembuangannya
  5. Semua input dan output dari masing-masing tahap di life cycle harus dapat ditangkap.
Daur hidup yang satu akan berhubungan dengan daur hidup yang lainnya. Kayu berasal dari pohon : pohon merupakan rumah bagi serangga hal tersebut merupakan elemen yang esensial dari ekologi dan memainkan peranan yang penting dalam keseimbangan oksigen/ karbon dioksida; hal ini berakibat pada kehidupan burung, perkembangan tanah dan gobal warming yang akan mempengaruhi, dan seterusnya.
Daur hidup dari suatu produk itu rumit, dan tidak ada analisis daur hidup yang komplit dan komperhensif. Dengan pemikiran tersebut maka dipertimbangkanlah langkah – langkah analisis daur hidup.
            
            Pengertian Analisis Daur Hidup
Analisis Daur Hidup (Life Cycle Analysis) adalah alat untuk menilai potensi dampak lingkungan dari sistem produk atau jasa pada semua tahap dalam siklus hidup mereka – dari ekstraksi sumber daya, melalui produksi dan penggunaan produk menggunakan kembali, daur ulang atau pembuangan akhir. LCA adalah suatu alat yang digunakan untuk mengevaluasi potensi dampak lingkungan dari suatu produk, proses atau aktivitas selama seluruh siklus hidup dengan mengukur penggunaan sumber daya ( “input” seperti energi, bahan baku, air) dan emisi lingkungan (“output” untuk udara, air dan tanah) yang berkaitan dengan sistem yang sedang dievaluasi.
Life-cycle assessment (LCA) adalah proses mengevaluasi dampak yang dipunyai produk terhadap lingkungan di seluruh perioda hidupnya yang karena itu meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan menurunkan pertanggungan (liabilities). Dapat digunakan untuk mempelajari dampak lingkungan pada produk atau fungsi produk yang didisain untuk bekerja.
LCA adalah suatu tujuan dari proses yang digunakan untuk mengevaluasi beban lingkungan yang berhubungan dengan produk, dan proses atau aktivitas produksinya. LSA ini dilengkapi dengan idenifikasi serta kuantifikasi energi dan penggunaan bahan dan juga pelepasan ke lingkungan. LCA mencakup keseluruhan dari daur hidup produk, yaitu: proses, pengekstrakan, pemrosesan bahan mentah, pemanukfakuran, transportasi dan distribusi, penggunaan/penggunaan ulang/pemeliharaan, daur ulang, dan penyelesaian akhir. (Fava: 1991)
LCA umumnya dipandang sebagai analisa cradle -to-grave(kemunculan sampai kepunahan). LCA adalah proses terus-menerus, perusahaan dapat memulai LCA pada setiap titik dalam siklus produk / fungsi.
LCA dapat digunakan bagi pengembangan keputusan pemilikan strategi bisnis, bagi produk, dan disain proses, dan perbaikan, untuk menata kriteria eko-labeling dan untuk berkomunikasi tentang aspek lingkungan dari produk .
Siklus hidup produk bermula ketika material mentah diekstraksi dari dalam bumi, diikuti oleh pembuatan, transportasi, dan penggunaan, dan berakhir dengaan manajemen limbah termasuk pendaur ulangan dan pembuangan akhir. Pada setiap tahapan siklus hidup terjadi emisi dan konsumsi sumberdaya. Dampak lingkungan dari keseluruhan siklus hidup produk dan jasa perlu diketahui. Untuk melakukan analsis daur hidup ini, pemikiran siklus hidup diperlukan.
            LCA dapat diterapkan dalam pengembangan strategis, pengembangan dan pemasaran produk. Metodologi LCA telah dikembangkan secara ekstensif selama dekade terakhir ini. Selain itu, sejumlah standar yang terkait LCA (ISO 14.040-14.043) dan laporan teknis telah diterbitkan dalam Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) untuk merampingkan metodologi.
Penggunaan energi dan emisi lingkungan seperti udara, air dan limbah padat berkurang secara signifikan. Dampak kategori termasuk peningkatan keasaman, keracunan air, efek rumah kaca, eutrofikasi, toksisitas manusia, penipisan ozon dan kabut juga berkurang sebagai akibat langsung dari penggunaan kimia yang lebih efisien menghasilkan direkomendasikan dosis yang lebih rendah dan performa yang lebih baik untuk mencuci super compacts.
Harus ditekankan bahwa mayoritas dari konsumsi energi dan emisi yang terkait penggunaan berasal dari fase siklus hidup. Ini berarti bahwa bagaimana kita menggunakan suatu produk, misalnya deterjen akan berdampak pada lingkungan dari produk yang kita pilih. Dengan pemikiran ini, kita harus menyediakan konsumen dengan petunjuk penggunaan yang relevan, dan mencoba untuk mengembangkan perbaikan yang mengarah pada suhu yang lebih rendah mencuci, penggunaan sedikit air, mengurangi penggunaan energi, dosis rendah, dan kurang kemasan. LCA tidak akan memberikan taksiran/penilaian terhadap resiko yang akan terjadi. Hal ini karena LCA tidak mempertimbangkan eksposur, yang sangat penting untuk menilai risiko.

1. Analisis Dampak Sosial-Ekonomi
Masalah perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan yang memperoleh peningkatan penting dalam kehidupan sehari-hari, dan tempat ini lebih daripada di bidang Materials Science and Engineering. Hampir setiap aspek dari penggunaan bahan, dari ekstraksi dan produksi, melalui desain produk dan akhirnya masalah-masalah pembuangan, sekarang tunduk pada pertimbangan lingkungan. Selain itu ada banyak kasus di mana perkembangan novel ‘ramah lingkungan’ bahan menyediakan tantangan baru bagi para ilmuwan dan insinyur material.
Meningkatnya kesadaran akan isu-isu lingkungan telah meningkatkan perhatian difokuskan pada industri bahan-bahan. Ada bahaya bahwa hal ini dapat memberikan gambaran yang negatif, menyoroti contoh-contoh di mana produksi dan penggunaan bahan-bahan telah menimbulkan masalah lingkungan. Dalam banyak kasus, bahan tambahan dan metode produksi yang digunakan untuk rekayasa bahan-bahan yang sangat bagus alasan sebelum masalah lingkungan hidup dibentuk. Citra yang lebih positif dari rekayasa bahan-bahan yang dapat digambarkan adalah salah satu tempat industri berada di barisan depan kemajuan teknis – bukan hanya untuk "berurusan dengan kesalahan masa lalu, tetapi juga untuk mendorong penggunaan bahan-bahan yang aman untuk masa depan.
           Analisis Siklus Hidup pada dasarnya adalah sebuah metode untuk mempertimbangkan seluruh dampak lingkungan, energi dan penggunaan sumber daya dari suatu material atau produk. Hal ini dapat mencakup seluruh seumur hidup dari ekstraksi untuk mengakhiri hidup-dari-pembuangan. Analisis siklus hidup dapat menjadi sangat efektif untuk menghubungkan berbagai aspek dampak lingkungan dari penggunaan bahan. Lingkup analisis siklus hidup dapat disesuaikan agar sesuai dengan kasus tertentu.

2. Minimalisasi Limbah pada sektor industri
Sektor industri saat ini dituntut untuk lebih serius dalam memperhatikan dampak lingkungan akibat aktivitasnya. Hal ini seiring bertambah buruknya kualitas lingkungan baik itu udara, air, tanah, dan sebagainya. LCA merupakan sebuah metode yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar dampak lingkungan yang disebabkan pada tahap daur hidup mulai dari pada saat pengambilan material sampai dengan produk itu selesai digunakan oleh konsumen.
Upaya untuk mencegah dan atau mengurangi timbulnya limbah, dimulai sejak pemilihan bahan, teknologi proses, penggunaan materi dan energi dan pemanfaatan produk sampingan pada suatu sistem produksi. Minimisasi limbah dapat dilakukan dengan cara reduce, reuse, recycle, recovery.
1.      Reduce
Upaya untuk mengurangi pemakaian/penggunaan bahan baku seefisien mungkin di dalam suatu proses produksi. Juga meperhatikan agar limbah yang terbuang menjadi sedikit.
2.      Reuse
Upaya penggunaan limbah untuk digunakan kembali tanpa mengalami proses pengolahan atau perubahan bentuk. Reuse dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah proses produksi yang bersangkutan.
3.      Recycle
Upaya pemanfaatan limbah dengan cara proses daur ulang melalui pengolahan fisik atau kimia, baik untuk menghasilkan produk yang sama maupun produk yang berlainan. Daur ulang dapat dilakukan di dalam atau di luar daerah proses produksi yang bersangkutan.
4.      Recovery
Upaya pemanfaatan limbah dengan jalan memproses untuk
memperoleh kembali materi/energi yang terkandung di dalamnya.
System “Life Cycle Anaysis (LCA)”, atau LCA merupakan evaluasi dari dampak teknologi, ekonomi dan lingkungan yang relevan dari proses, produk atau sektor perekonomian sepanjang siklus hidup (Schempf, 1999 dan Curran, 1996).


3. Landfill
Landfills termasuk pembuangan limbah internal di mana seorang produser limbah melakukan pembuangan limbah mereka sendiri di tempat produksi. Banyak tempat pembuangan sampah juga digunakan untuk tujuan pengelolaan sampah lainnya, seperti penyimpanan sementara, konsolidasi dan transfer, atau pengolahan limbah bahan (pengurutan, pengobatan, atau daur ulang). Sebuah TPA juga dapat merujuk kepada tanah yang telah diisi dengan tanah dan batu, bukan limbah, sehingga dapat digunakan untuk tujuan tertentu, seperti untuk membangun rumah.
Mekanisme dari landfill adalah sampah ditumpuk dalam satu lahan. Lahan tempat sampah tersebut sebelumnya digali dan tanah liatnya dipadatkan. Lahan ini desbut ground liner. Usai tanah liat dipadatkan, tanah kemudian dilapisi dengan geo membran, lapisan mirip plastik berwarna yang dengan ketebalan 2,5 milimeter yang terbuat dari High Density Polyitilin, salah satu senyawa minyak bumi. Lapisan inilah yang nantinya akan menahan air lindi (air kotor yang berbau yang berasal dari sampah), sehingga tidak akan meresap ke dalam tanah dan mencemari air tanah. Di atas lapisan geo membran dilapisi lagi geo textile yang gunanya memfilter kotoran sehingga tidak bercampur dengan air lindi. Secara berkala air lindi ini dikeringkan.
Sebelum dipadatkan, sampah yang menumpuk diatas lapisan geo textille ini kemudian ditutup dengan menggunakan lapisan geo membran untuk mencegah menyebarnya gas metan akibat proses pembusukan sampah (yang dipadatkan) tanpa oksigen. Geo membran ini juga akan menyerap panas dan membantu proses pembusukan. Radiasinya akan dipastikan dapat membunuh lalat dan telur-telurnya di sekitar sampah. Sementara hasil pembusukan samapah dalam bentuk kompos bisa dijual. Gas metan ini juga yang pada akhirnya digunakan untuk memanaskan air hujan yang sebelumnya ditampung untuk mencuci truk-truk pengangkut sampah. Henky yakin jika truk sampah yang bentuknya tertutup dicuci setiap kali habis mengangkut sampah, tidak akan menebarkan bau ke lokasi TPA.

            Alasan menggunakan Analisis Daur Hidup
Minimal terdapat tiga alasan mengapa perusahaan perlu menggunakan LCA (3): berorientasi produk dan jasa; integratif; ilmiah dan kuantitatif, selengkapnya sebagai berikut:
1. Beroritentasi produk dan jasa, sangat penting dalam setiap masyarakat. Semua aktifitas ekonomi tergantung pada penggunaan dan konsumsi produk dan jasa. Produk dan jasa-jasa adalah sumbu dimana aktifitas ekonomi berjalan. Kebijakan pada produk dan jasa dalam bisnis dan pemerintahan merupakan alat yang penting untuk membuat aktifitas ekonomi lebih berkelanjutan.
2. Pendekatan integratif, dengan pendekatan ini LCA dapat di gunakan untuk mencegah 4 bentuk umum terjadinya masalah polusi :
a.       Dari satu tahap siklus hidup ke tahap lainnya
b.      Dari satu media lingkungan ke lainnya
c.       Dari satu lokasi ke lainnya
d.      Dari saat ini ke masa depan
3. LCA dirancang untuk menyediakan informasi paling ilmiah dan kuantitatif yang mungkin untuk mendukung pengambilan keputusan. Tipe kriteria lain --ekonomi, sosial, dan politik-- memasuki diskusi ketika pengambil keputusan menggunakan keseluruhan informasi yang disediakan LCA untuk menganalisa informasi secara lengkap.
Tujuan dan cakupan definisi, produk atau jasa yang ditangani didefinisikan, basis fungsional bagi perbandingan dipilih dan tingkatan detail yang diperlukan diketahui.
Inventory ekstraksi dan emisi, pembawa energi dan mate rial mentah yaang digunakan, emisi ke atmosfir, air, ,dan tanah, dan bermacam tipe berbeda penggunaan tanah dikuantifikasi pada setiap proses, kemudian dikombinasikan dalam diagram alur proses (process flow chart) dan dihubungkan dengan basis fungsional.
Penanganan dampak, efek penggunaan sumberdaya dan emisi yang dihaasilkan dikelompokkan dan dikuantifikasi kedalam jumlah tertentu kategori dampak yang kemudian diberi bobot kepentingannya
Interpretasi, hasil tersebut dilaporkan dalam cara paling informatif dan keperludan dan peluaang untuk mengurangi dampak produk atau jasa pada lingkungan secara sistematis dievaluasi.
Pendapat lain, LCA digunakan untuk menangani dampak lingkungaan dari produk, proses, atau aktifitas diseluruh siklus hidupnya dari mulai ekstraksi material mentah ke pemrosesan, transportasi, penggunaaan, dan pembuangan akhir (Environment Australia 1999:14).

         Tujuan Analisis Daur Hidup
LCA dapat digunakan untuk membantu strategi bisnis dalam pembuatan keputusan, untuk peningkatan kualitas produk dan proses, untuk menetapkan criteria eco-labelling, dan untuk mempelajari aspek lingkungan dari suatu produk. Elemen utama dari LCA antara lain :
a.       Mengidentifikasi dan mengkuantifikasikan semua bahan yang terlibat, misalnya energi dan bahan baku yang dikonsumsi, emisi dan limbah yang dihasilkan.
b.      Mengevaluasi dampak yang potensial dari bahan-bahan tersebut terhadap lingkungan.
c.       Mengkaji beberapa pilihan yang ada untuk menurunkan dampak tersebut.

Gambar 1. Skema Life-cycle assessment.
Konsep dasar dari LCA ini didasarkan pada pemikiran bahwa suatu sistem industri tidak lepas kaitannya dengan lingkungan tempat industry itu berada. Dalam suatu sistem industri terdapat input dan output. Input dalam sistem adalah material-material yang diambil dari lingkungan dan outputnya akan dibuang ke lingkungan kembali. Input dan output dari sistem industri ini tentu saja akan memberi dampak terhadap lingkungan. Pengambilan material (input) yang berlebihan akan menyebabkan semakin berkurangnya persediaan material, sedangkan hasil keluaran dari sistem industri yang bisa berupa limbah (padat, cair, udara) akan banyak memberi dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu LCA berusaha untuk melakukan evaluasi untuk meminimumkan pengambilan material dari lingkungan dan juga meminimumkan limbah industri.
Tujuan LCA adalah untuk membandingkan semua kemungkinan kerusakan lingkungan yang dapat diakibatkan dari suatu produk maupun proses, agar dapat dipilih produk maupun proses yang mempunyai dampak paling minimum.
Prosedur dari life cycle assessment (LCA) merupakan bagian dari ISO 14000 environmental management standards: in ISO 14040:2006 and 14044:2006. (ISO 14044 replaced earlier versions of ISO 14041 to ISO 14043.)
          
            Langkah Utama Analisis Daur Hidup
Berdasarkan ISO 14040 dan 14044 standards, life-cycle analysis dilaksanakan dalam empat langkah utama. 
v  Langkah 1 (Tujuan dan cakupan (Goal and Scoping))
Langkah pertama dalam LCA adalah menentukan ruang lingkup dan batasan dari pembahasan. Langkah ini dinamakan goal and scope definition. Pada tahap ini, alasan untuk melaksanakan LCA diidentifikasikan: penentuan produk, proses, maupun pelayanan yang akan dipelajari; pemilihan unit fungsional dari produk; penentuan pilihan tentang batasan sistem, termasuk batasan ruang maupun waktu. Yaitu, inventarisasi kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak penting yang ditimbulkan oleh proses atauproduk tertentu terhadap lingkungan.
Batasan sistem menentukan unit proses mana yang tercakup dalam pembahasan LCA dan batasan tersebut harus mencerminkan tujuan dari pembahasan. Kesimpulannnya, tahap ini mencakup deskripsi dari metode yang diaplikasikan untuk memperkirakan potensi dampak lingkungan dan dampak mana yang akan diperhitungkan.

v  Langkah 2 (Analisis inventori (Inventory Analysis))
Langkah kedua dalam life-cycle assessment adalah menginventrisasikan input, seperti bahan baku dan energi, dan output, seperti produk, produk samping, limbah, dan emisi, yang terjadi dan digunakan sepanjang daur hidupnya. Analisis inventori merupakan bagian LCA yang berisi inventori input yang berupa energi maupun bahan baku, dan output emisi maupun limbah. Pada proses ini dilakukan pengumpulan data kuantitatif untuk menentukan level atau tipe inputenergi maupun material pada suatu sistem industri dan hasil yang di lepaskan kelingkungan. Langkah ini terkadang membutuhkan porsi waktu dan data paling banyak di antara langkah-langkah yang lain.

v  Langkah 3 (Penakaran dampak (Impact Assessment))
Hasil dari langkah life-cycle inventory merupakan kumpulan bahan/material yang terkandung dari setiap bahan yang digunakan atau yang dikeluarkan. Untuk mengubah tiap elemen dalam inventarisasi tersebut menjadi suatu kajian kualitatif terhadap kondisi lingkungan maka memerlukan suatu langkah untuk memperkirakan dampak lingkungan yang merupakan akibat dari emisi dan bahan yang digunakan. Sehingga, langkah ketiga ini adalah untuk memperkirakan dampak lingkungan dari semua input dan output yang sudah terkumpul dalam inventaris tahap dua. Langkah ini disebut life-cycle impact analysis. Penakaran dampak digunakan untuk menganalisis dampak suatu proses terhadap lingkungan dan kesehatan manusia yang telah didata secara kuantitatif pada penakaran inventori. Dalam pengklasifikasian, data inventori yang dihubungkan dengan efek potensi terhadap ekologi dan kesehatan manusia ditempatkan dalam kategori-kategori khusus.

v  Langkah 4 (Interpretasi atau analisis perbaikan (Improvement Analysis))
Langkah keempat dalam life-cycle assessment adalah untuk menginterpretasikan hasil dari langkah ketiga, bila mungkin disertakan saran untuk langkah perbaikan. Jika life-cycle assessment ditujukan untuk membandingkan produk, langkah ini bisa berisi tentang rekomendasi produk yang paling ramah terhadap lingkungan. Jika hanya satu produk yang dianalisis, saran untuk memodifikasi produk bisa ditambahkan dalam tahap ini. Langkah keempat ini disebut improvement analysis atau interpretation step. (Pada tahapan ini dilakukan interpretasi hasil, evaluasi, dan analisis terhadap usaha-usaha yang dapat dilakukan untuk perbaikan).

        Prinsip LCA

�� Raw Materials atau Bahan Baku: 1. Menggunakan sesedikit mungkin material berdampak negatif terhadap lingkungan; 2. Menggunakan sesedikit mungkin material;
�� Manufacture atau Manufaktur (proses industri atas bahan baku): 3. Menggunakan lebih sedikit sumber daya; 4. Memproduksi sesedikit mungkin polusi dan limbah; 5. Mengurangi dampak distribusi;
�� Use atau Penggunaan: 6. Menggunakan sedsedikit mungkin sumber daya; 7. Meminimasi penggunaan yang mengakibatkan polusi dan limbah; 8. Mengoptimalkan kegunaan dan usia kegunaan;
�� End of life atau Akhir Kegunaan Produk: 9. Kurangi dampak lingkungan dari material.

        Keuntungan dan Kerugian menerapkan LCA
   Beberapa manfaat atau nilai penting dari life-cycle assessment antara lain:
·         Pengambilan keputusan yang lebih baik tentang pemilihan produk dan sistem produksi.
·   Untuk mengidentifikasikan dampak utama terhadap lingkungan dan tahap-tahap daur hidup produk.
·         Membawa perusahaan pada efisiensi proses perusahaan
·         Menyediakan langkah-langkah perbaikan yang berbasis lingkungan
·         Memberikan solusi atas informasi yang keliru.

Adapun pendapat yang lain mengenai manfaat LCA antara lain:
1. Perbaikan produk : LCA dapat mengidentifikasi pilihan biaya paling efisien dan efektif bagi pengurangan dampak lingkungan dari produk atau jasa. Perbaikan sema cam itu dapat membuat produk lebih diinginkan oleh konsumen.
2. Perbaikan proses. LCA dapat digunakan untuk menangani operasi dan proses produksi perusahaan. Ini adalah cara yang berguna untuk menghitung sumberdaya dan penggunaan energi. Ini dapat menawarkan pilihan bagi perbaikan efisiensi seperti menghindari pengolahan limbah, penggunaan sumberdaya lebih sedikit, dan memperbaiki kualitas perakitan.
3. Perencanaan strategis. LCA dapat digunakan sebagai perencanaan strategis. Begitu peraturan lingkungan dan hara pan lingkungan meningkat, terdapat kecenderungan peningkatan tekanan bagi perusahaan untuk memperbaiki operasi lingkungan mereka. Kinerja lingkungan juga cenderung menjadi lebih kritis bagi daya kompetisi internasional.

Penerapan life-cycle assessment memberikan keuntungan dan manfaat yang besar bagi produsen dan marketers. Life-cycle assessment dapat diterapkan antara lain untuk :
1. Informasi untuk bagian eksternal; Desain atau redesign produk dan proses produksi, pemilihan bahan, life-cycle management, dan perencanaan yang strategis.
·                Shareholders berpengaruh pada investasi mereka
·                Konsumen menilai atau mengkaji produk
·                Kelompok penekan yang berkenaan dengan dengan pengaruh lingkungan organisasi
·                Pembuat kebijakan memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap produk
·                Pihak lain yang berkepentingan seperti investor
·                Badan pengatur ekollabel
·                Badan pengatur eko audit
2. Informasi untuk bagian internal; Environmental labeling, environmental procurement, dan penentuan kebijakan public.
·                 Membuat dasar informasi yang luas, pada semua produk sumber kebutuhan dan pengeluaran
·                 Membantu untuk menentukan prioritas pada tindakan peduli lingkungan
·                Menyediakan manajer dengan informasi untuk mengatur target dan tindakan lingkungan yang berhubungan                     dan perbuatan atau tindakan.
·                Sebagai pedoman perkembangan produk
·                Menyediakan dasar untuk tuntutan pemasangan iklan latihan hubungan masyarakat
·                Sebagai bagian dari proses audit suplier
·               Membantu dalam memilih operasi praktek lingkungan yang terbaik.

Beberapa pihak yang dapat menerapkan life-cycle assessment antara lain :
·      perancang produk dan produsen barang (pabrik)
·      pemegang saham, ahli keuangan (akuntan), dan pihak asuransi
·      pelanggan
·      LSM lingkungan dan lembaga pelindung konsumen
·      Pembuat kebijakan atau pemerintah

Life-cycle assessment  juga mempunyai beberapa kelemahan dalam pelaksanaannya. Beberapa kelemahan tersebut adalah sebagai berikut :
·      menyita waktu
·      biaya yang cukup besar
·      rawan konflik
·      keterbatasan data : ketersediaan dan kualitas data life-cycle inventory
·      permasalahan tentang metodologi : masih sedikitnya pihak yang setuju tentang metodologi analisis dampak
·      tidak semua dampak lingkungan diperhatikan dan dipertimbangkan
·      kesulitan dalam menginterpretasikan data kuantitatif menjadi dampak lingkungan yang ditimbulkan : ketidakpastian dalam inventarisasi dan dalam metodologi analisis dampak
·      perbedaan dalam perumusan LCA yang akan menyebabkan hasil analisis yang berbeda pula.

            Peranan Akuntan dalam Life Cycle Analysis
LCA membutuhkan keahlian teknis dan ilmiah secara dominan, sehingga prinsip-prinsip proses dapat dimengeri dengan mudah- kemudian ditambahkan ke manajemen dan lainnya dengan perspektif sistem bisnis.
Hal ini secara jelas memakai akuntan-akuntan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam mengumpulkan bukti dan mengevaluasi, desain sistem dan evaluasi, dan audit yang memilki peran penting dalam pengembangan LCA.


by: Fiesty , Robithoh, Arief, Denny, Iqbal, Ferry

2 comments:

  1. Download full makalah "Analisis Akuntansi Lingkungan dan Biaya Lingkungan berdasarkan Pendekatan Analisis Daur Hidup pada Industri."
    http://www.scribd.com/doc/64996420/IV-Makalah-Print
    atau klik fiesty.

    baik kkaann.. indahnya berbagi ilmu :) . kembangkan ya anak-anaak, jangan copy-paste (copas) doang :)

    ReplyDelete